Ada Untuk Diikhlaskan

Beberapa waktu ke belakang, saya cukup sering mendengar teman yang bercerita tentang masalah yang sedang mereka hadapi. Cukup beragam. Ada yang hanya masalah kecil, sebagian lagi masalah yang cukup pelik. Ada yang melibatkan orang lain, tapi ada juga yang muncul karena diri sendiri. Kemarin, saya bertemu dengan seorang teman yang sudah sangat lama tidak bertemu. Dia tidak datang dengan masalah. Banyak hal yang telah berubah, tapi tidak dengan teman saya. Selalu menyenangkan bertemu dengan temannya.

Berhenti Mencoba

Pernahkah kalian tertawa meski tanpa sebab? Saya pernah. Tak akan terasa lega, karena hanya ada kekosongan yang muncul di hati. Terkadang saya melakukannya, tertawa akan hal kecil yang sebenarnya tidak lucu. Hanya untuk mencairkan suasana. Pernahkah kalian berjalan meski tanpa arah? Saya pernah. Tak akan terasa lelah, karena hanya akan ada pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran. Pernahkah kalian berhenti meski masih mencoba? Saya pernah. Tak seperti biasanya, akan ada banyak rasa penasaran yang muncul, hanya saja pada akhirnya akan ada alasan mengapa kita harus berhenti.

Biru

Setelah hujan reda, genangan airpun surut. Kuputuskan untuk segera pulang, sebelum malam terlalu malam dan dingin membangunkan ibumu kembali. Belum jauh berjalan, Aku berpaling dan memastikan engkau tidak lagi terlihat. Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Setelah banyak hal, bukankah aku berhak untuk menambah harapan? Mungkin aku berbeda, hal-hal kecil selalu membuatku teringat kepadamu. Bagaimana kau berbicara, caramu berjalan, hingga tawamu yang kau sebut datar atau bahkan ketidakpedulianmu saat sibuk dengan sesuatu.

Ampuni ya Allah

Mereka yang selalu ada tanpa diminta. Mereka yang berdoa dan melupakan dirinya. Mereka yang berkata ada ketika tak ada, hanya untuk kami anaknya. Mereka yang bersedih ketika kami terlupa. Mereka yang bahagia ketika kami tertawa, dan selalu bertahan ketika usia berbicara. Ampuni ya Allah, ampuni mereka.

Hujan dan Menunggu

Ketidakpastian selalu datang bersama hujan. Karenanya, hujan menjadi waktu yang menyenangkan untuk menunggu, karena kita tak tahu. Mungkin hujan mengingatkan kita untuk berhenti. Menjadi penanda dalam berkisah, menjadi diam dalam menunggu. Hanya saja hujan sering pula menjadi alasan. Berbagai cerita, waktu dan kesempatan menjadikan hujan sebagai alasan untuk kembali. Entah karena waktu yang kita anggap tidak tepat atau sekedar keterbatasan ruang. Atau karena hujan membawa masa lalu yang enggan dilupakan. Hujan menjadi alasan.

Hujan, langit, dan teman yang jauh di sana

Teman, tahukah engkau tentang hujan dan langit? Hujan. Sangat berkenaan dengan hati. Bukan hanya sekedar waktu yang tepat untuk menuturkan doa dan harapan. Hujan selalu memberikan rasa yang sama hanya dengan sudut yang berbeda. Sering kali menenangkan hati, namun tak jarang pula memberikan kerisauan yang muncul secara tiba-tiba. Langitpun begitu. Ia tetap memberikan rasa yang sama hanya dengan sudut yang berbeda. Karena tempat di mana kita berdiri akan selalu memberikan cerita yang berbeda.

Tentang Rindu

Terbangun. Sekelebat cahaya masuk melalui jendela dan membangunkanku pagi ini. Dengan tubuh yang masih terasa lelah. Beberapa hari ini jam tidur memang sangat tidak beraturan dan beberapa kali harus melakukan perjalanan hingga ke luar kota. Hari ini tidak ada rencana khusus, hanya berniat untuk beristirahat dan menonton sejumlah film yang sebelumnya sempat tertunda. Komputer telah menyala dan dengan cepat mata dan tangan bergerak ke sana ke mari hingga terhenti di sebuah folder.

Tidak Dengan Hati Yang Riang

Semalam saya terdiam. Teringat kembali akan banyak hal yang sudah terlewatkan. Di saat yang sama, saya merasa sedih dan senang secara bergantian. Sering kali memperoleh banyak pengalaman, sahabat, cerita serta sudut yang berbeda. Memiliki keluarga yang selalu mendukung anda adalah karunia yang tak ternilai. Memiliki sahabat yang selalu ada, cerita yang selalu berbeda dan sudut pandang yang selalu berubah. Sedih bukan karena hasil yang belum saya capai. Tapi justru karena merasa jarang atau bahkan tidak pernah berusaha dengan maksimal.

Ada Tanda Titik

Mungkin saya butuh untuk berhenti sejenak. Beristirahat dan menghela nafas. Atau sekedar melihat keadaan sekitar. Karena mungkin ada yang berubah atau mungkin saya/kita yang berubah. Kadang kita terlupa, waktu bisa mengubah segala sesuatu. Entah itu sedikit atau seluruhnya. Entah itu sesaat atau selamanya. Kita hanya perlu menerima dan melihat sisi baik yang ada. Memang sulit. Kemarin saya kembali diingatkan akan pahitnya kopi. Diingatkan kembali akan sulitnya menjaga. Diingatkan kembali akan sulitnya untuk diam ketika kita ingin berbicara.

dan Bandungpun hujan

Seperti yang telah berlalu, segala sesuatu pasti ada akhirnya. Begitu pula dengan hari ini. Hari yang melelahkan dan pasti berakhir. Banyak yang harus diselesaikan. Hanya perlu usaha dan doa. Setelah semuanya berakhir, akan ada hal lain yang harus dikerjakan, yang menjadi tanggung jawab baru, yang harus didoakan dan harus diikhlaskan. Karena setiap akhir adalah sebuah awal yang baru. Kita hanya perlu bersyukur dan berdoa untuk memulai kembali. Dan sore ini, Bandung kembali hujan seperti mengingatkan untuk tetap berdoa dan bersyukur serta memulai yang baru.