Biru

Setelah hujan reda, genangan airpun surut. Kuputuskan untuk segera pulang, sebelum malam terlalu malam dan dingin membangunkan ibumu kembali.

Belum jauh berjalan, Aku berpaling dan memastikan engkau tidak lagi terlihat.

Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Setelah banyak hal, bukankah aku berhak untuk menambah harapan?

Mungkin aku berbeda, hal-hal kecil selalu membuatku teringat kepadamu. Bagaimana kau berbicara, caramu berjalan, hingga tawamu yang kau sebut datar atau bahkan ketidakpedulianmu saat sibuk dengan sesuatu.

Ketidaksengajaan. Semua dimulai dengan ketidaksengajaan. Terlalu banyak kebetulan. Seperti engkau yang tidak menyukai biru tapi justru mencoba memilih biru dan berdamai dengan pikiranmu.

Seperti Dia yang memilihkan waktu dan membukakan hatimu yang sempat memilih diam dan menunggu.

Entah, mungkin bukan hanya aku yang merasakan hal ini terhadapmu. Hanya saja, aku selalu berlari ke arahmu, untuk membunuh rindu.