(Sudah) Lama Tidak Tertawa

Sudah lama sekali rasanya tidak tertawa. Seperti berbicara dalam diam. Ada perasaan tak tentu yang menelusuk ke dalam pikiran. Bertingkah seakan mampu, namun menjadi beban. Bukan seperti yang kalian lihat dan pikirkan. Tertawa adalah hal yang sulit bagi saya. Entah mengapa. Mungkin terlalu banyak hal yang harus ditertawakan sehingga terkadang saya tidak lagi melihat sesuatu yang sangat menghibur. Lelucon atau candaan yang ada terdengar seperti paksaan. Klise. Mungkin karena kurangnya rasa syukur.

Tentang Perjalanan

Saya tak pernah senang dalam perjalanan, lebih memilih berdiam dan melakukan sesuatu. Entah karena lingkungan atau merasa perlu. Namun saya banyak melakukan perjalanan. Bukan perjalanan yang sebenarnya, tapi berjalan dalam lintasan waktu yang telah berlalu. Mungkin karena rindu. Tersadar. Banyak hal yang harus disyukuri. Banyak pula hal yang harus diperbaiki. Namun lebih banyak hal yang membuat tersenyum dan tertawa. Banyak cerita gagal yang tertulis. Ada kesempatan yang terlewatkan. Ada sesal yang terkadang hanya bisa dihadapi dengan senyuman.

Do'a

Kalimat yang selalu diulang Kalimat yang selalu terpikirkan Kalimat penuh pengharapan Terkadang hanya terlintas di pikiran, hingga tak sengaja terucap Sering terasa kurang namun pasti menenangkan

The Long and Winding Road

The long and winding road that leads to your door Will never disappear I’ve seen that road before it always leads me here Leads me to your door The wild and windy night that the rain washed away Has left a pool of tears crying for the day Why leave me standing here, let me know the way Many times I’ve been alone and many times I’ve cried Anyway you’ll never know the many ways I’ve tried And still they lead me back to the long and winding road You left me standing here a long, long time ago Don’t leave me waiting here, lead me to you door

Tetap Berusaha

Sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan. Nyaris pukul 2 pagi. Saya memutuskan pulang dengan taksi. Bukan karena sudah terlalu lelah. Bukan karena terlalu malam. Tapi hujan kembali turun. Dan saya juga telah lumayan basah sebelum mendapatkan taksi kosong. Dingin. Dan suhu tubuh saya mulai diatas normal. Kepala mulai terasa sakit dan sepertinya akan semakin parah jika tidak segera beristirahat. Tapi hal seperti yang menandakan kita masih hidup dan harus tetap berusaha.

(Masih) Menikmati Suasana

Sudah hampir jam 11, dan hujan telah benar-benar berhenti. Semakin malam, terlihat semakin ramai pengunjung yang datang. Bahkan terlihat antrian di pintu masuk untuk memperoleh meja. Saya sendiri masih bertahan duduk di meja ini. Saya masih menikmati alunan musik yang dimainkan oleh grup yang belakangan saya tau bernama Notes. Hanya terdiri dari 3 personel. Tapi mereka memainkan banyak sekali alat musik secara bergantian. Gitar, Drum, Contrabass, Biola, Keyboard, Flute, Clarinet, hingga perkusi.

Langkah yang tepat

Musik yang dimainkan membuat saya kembali memesan segelas kopi di cafe ini. Kali ini _fools like me-_nya Lisa loeb dimainkan dengan sedikit merubah tempo. Tetap santai dan terdengar menyenangkan. Potongan lirik lagu ini juga begitu tepat untuk saat ini. I know where I’m going I’m tripping I’m sliding around that’s okay At least I’m excited It wasn’t how I planned it (Wasn’t how I planned it feet are where I landed)

Alasan

Kali ini tidak di sudut ruangan. Aku memilih duduk di depan agar lebih dekat performer yang sedang tampil. Hanya, aku tetap memilih duduk di meja tepi agar tidak terganggu dengan pengunjung dan pelayan yang banyak mondar mandir. Tak lama, aku langsung memesan air mineral dan omelet. Cafe ini tidak begitu nyaman. Mungkin lokasinya membuat cafe ini begitu ramai (dan mungkin hidangan yang ada). Lampunya redup dan mejanya rapat. Sehingga terasa sulit bagi pengunjung untuk sekedar masuk/keluar.

Terbiasa Bercanda

Terlintas memori ketika aku masih di rumah. Pernah satu ketika aku terbangun dan merasa begitu lemah. Suhu badan terasa begitu panas, tenggorakan terasa kering dan kepala terasa berat sekali. Aku jatuh sakit. Semula aku merasa ini hanya sekedar penyakit biasa yang muncul karena terlalu letih dan kurang beristirahat. Sehingga aku hanya memilih berbaring seharian dari pagi hingga menjelang magrib. Sudah menjadi kebiasaan jika aku sakit. Istirahat dan semuanya akan baik saja.

Berpikiran Positif

“Gimana kamu aja, In sya Allah ntar dimudahkan sama Allah. Kamu udah lebih ngerti, kami di sini hanya bisa berdoa aja” Kalimat itu begitu sering aku dengar dari dia. Ibuku. Orang yang selalu mempercayai aku. Selalu memberi dorongan untuk apa saja yang aku lakukan. Beliau memberikan kebebasan kepada kami, anaknya, untuk memilih. Beliau pasti menginginkan yang terbaik untuk kami. Namun di satu sisi lain, di saat bersamaan, beliau juga mengingatkan untuk tetap berserah diri kepada Sang Maha Tahu.